![]() |
| unsplash.com/Shardayyy |
Tradisi pesta pernikahan rasanya
adalah sebuah fenomena tertinggi dalam sebuah keluarga. Banyak pasangan yang
memilih menggelar pesta besar-besaran meski harus ‘ngutang dulu’. Terlalu
banyak permintaan keluarga yang harus begini dan begitu hingga akhirnya over-budget. Habis pesta rakyat baru deh
keteteran uangnya udah kandas.
Sebenarnya bukan masalah mampu atau
tidak mampu menggelar pesta yang besar dan mewah. Tetapi terkadang gengsi
memang mahal harganya demi menjaga nama baik keluarga dari omongan tetangga.
Ya, lucu memang karena rasanya kita banyak bertanggung jawab dalam memenuhi
ekspektasi orang lain.
Tetapi nampaknya hidup di era baru
yang mengharuskan untuk selalu berdampingan dengan ancaman pandemik ini bisa
menggeser tatanan kehidupan. Pasalnya, banyak orang ‘terselamatkan’ dari pesta
gengsi yang selama ini diagung-agungkan.
Kenapa bisa begitu?
Ya, karena tak sedikit juga orang yang
berbahagia akibat pandemik ini karena tidak harus menggelar pesta pernikahan.
Modal untuk kehidupan baru bisa dihemat berkali-kali lipat dibanding harus
menggelar resepsi. Bayangkan saja berapa modal untuk sewa gedung, katering, baju
pengantin, souvenir dan segala tetek bengek lainnya.
Belum lagi keadaan ekonomi saat ini
yang masih sangat morat-marit, banyak pengusaha gulung tikar, daya beli
masyarakat menurun, sulit mencari pekerjaan serta ancaman PHK yang
sewaktu-waktu bisa terjadi. Sederet masalah ekonomi masih berdampingan bersama
masalah kesehatan yang menduduki puncak perbincangan di media.
Risiko tidak balik modal saat
menggelar pesta mewah tentu akan menjadi ancaman yang nyata. Bagaimana tidak?
Rasa takut masih menghantui banyak masyarakat yang kebingungan akan eksistensi
virus yang mematikan ini. Bagi sebagian orang, menghadiri pesta akan sangat
menakutkan karena harus berkerumun dengan banyak orang. Walaupun masih banyak
juga orang yang abai dan menikmati acara kumpul-kumpul.
Terlebih lagi proteksi diri dengan
menggunakan masker di acara pesta pernikahan itu seperti menjadi sebuah
kemustahilan. Saat sampai di TKP mau tidak mau kamu harus melepas masker untuk
mencicipi makanan yang rasanya sayang untuk dilewatkan, bukan?
Protokol kesehatan 3M (memakai masker,
mencuci tangan dan menjaga jarak) tidak akan berlaku di acara resepsi
pernikahan, sebuah dilema memang. Faktanya ini memang terjadi, saya menyaksikan
sendiri bagaimana resepsi pernikahan digelar baik itu di hotel maupun di pemukiman
warga. Jangankan cek suhu tubuh sebelum memasuki tempat acara, pengantinnya
saja menyalami setiap orang yang naik ke atas panggung. Eits, tentu tanpa sarung tangan dong, terbayang tidak ada berapa
ratus orang yang datang??
Ironi sekali jika kita harus
menyanggah bahwa semua orang telah melakukan prosedur kesehatan yang
seharusnya. Tinggal kembali lagi ke pribadi masing-masing akan menyikapinya
seperti apa. Bagi saya, menghadiri resepsi tidaklah masalah asal kita menjamin
dan sadar akan keselamatan diri.
Jika memang rasanya tidak mungkin
untuk tidak datang tetap bisa diakali kok. Saya lebih memilih datang, duduk
dipojokan yang sepi dan pulang. Tidak perlu berlama-lama yang penting sudah
‘setor muka’ ke yang punya hajat. Memang keadaan seperti ini rasanya menjadikan
orang sedikit tidak ramah dan agak egois. Tetapi mau bagaimana lagi, jika
setiap orang tidak peduli lalu kapan kita bisa bertegur sapa dengan senyum
lebar seperti dulu lagi??
Sungguh setiap orang pasti merindukan
bisa kumpul-kumpul sama teman, berjabat tangan di setiap acara pertemuan dan
bebas naik kendaraan umum tanpa batasan. Ah rasanya masih akan sangat lama
menunggu waktu itu kembali.
Itulah mengapa sebaiknya pada masa
sekarang ini akan lebih elok rasanya jika pesta pernikahan diadakan secara
sederhana saja. Mengundang orang-orang terdekat dengan jumlah terbatas. Toh,
itu tidak menghapuskan momen kesakrakalan dari sebuah pernikahan.
Sekalipun kamu mampu untuk menggelar
resepsi yang sangat mewah dan bergengsi tetapi cobalah untuk peduli. Sudah
saatnya mengesampingkan ego dan rasa gengsi yang tidak akan ada habisnya.
Selain bisa meminimalisir risiko penularan, menyederhanakan acara resepsi akan
menambah keintiman acara.
Percayalah, perubahan itu harus dilakukan dari diri sendiri, klise memang tetapi setidaknya kamu sudah melakukan sebuah kebaikan paling tidak untuk dirimu sendiri.



0 komentar:
Posting Komentar