12/01/21

Resepsi Pernikahan Mewah Sudah Tidak Relate dengan Kehidupan Saat Ini

 

unsplash.com/Shardayyy

Tradisi pesta pernikahan rasanya adalah sebuah fenomena tertinggi dalam sebuah keluarga. Banyak pasangan yang memilih menggelar pesta besar-besaran meski harus ‘ngutang dulu’. Terlalu banyak permintaan keluarga yang harus begini dan begitu hingga akhirnya over-budget. Habis pesta rakyat baru deh keteteran uangnya udah kandas.

Sebenarnya bukan masalah mampu atau tidak mampu menggelar pesta yang besar dan mewah. Tetapi terkadang gengsi memang mahal harganya demi menjaga nama baik keluarga dari omongan tetangga. Ya, lucu memang karena rasanya kita banyak bertanggung jawab dalam memenuhi ekspektasi orang lain.

Tetapi nampaknya hidup di era baru yang mengharuskan untuk selalu berdampingan dengan ancaman pandemik ini bisa menggeser tatanan kehidupan. Pasalnya, banyak orang ‘terselamatkan’ dari pesta gengsi yang selama ini diagung-agungkan.

Kenapa bisa begitu?

Ya, karena tak sedikit juga orang yang berbahagia akibat pandemik ini karena tidak harus menggelar pesta pernikahan. Modal untuk kehidupan baru bisa dihemat berkali-kali lipat dibanding harus menggelar resepsi. Bayangkan saja berapa modal untuk sewa gedung, katering, baju pengantin, souvenir dan segala tetek bengek lainnya.

Belum lagi keadaan ekonomi saat ini yang masih sangat morat-marit, banyak pengusaha gulung tikar, daya beli masyarakat menurun, sulit mencari pekerjaan serta ancaman PHK yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Sederet masalah ekonomi masih berdampingan bersama masalah kesehatan yang menduduki puncak perbincangan di media.

Risiko tidak balik modal saat menggelar pesta mewah tentu akan menjadi ancaman yang nyata. Bagaimana tidak? Rasa takut masih menghantui banyak masyarakat yang kebingungan akan eksistensi virus yang mematikan ini. Bagi sebagian orang, menghadiri pesta akan sangat menakutkan karena harus berkerumun dengan banyak orang. Walaupun masih banyak juga orang yang abai dan menikmati acara kumpul-kumpul.

Terlebih lagi proteksi diri dengan menggunakan masker di acara pesta pernikahan itu seperti menjadi sebuah kemustahilan. Saat sampai di TKP mau tidak mau kamu harus melepas masker untuk mencicipi makanan yang rasanya sayang untuk dilewatkan, bukan?

Protokol kesehatan 3M (memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak) tidak akan berlaku di acara resepsi pernikahan, sebuah dilema memang. Faktanya ini memang terjadi, saya menyaksikan sendiri bagaimana resepsi pernikahan digelar baik itu di hotel maupun di pemukiman warga. Jangankan cek suhu tubuh sebelum memasuki tempat acara, pengantinnya saja menyalami setiap orang yang naik ke atas panggung. Eits, tentu tanpa sarung tangan dong, terbayang tidak ada berapa ratus orang yang datang??

Ironi sekali jika kita harus menyanggah bahwa semua orang telah melakukan prosedur kesehatan yang seharusnya. Tinggal kembali lagi ke pribadi masing-masing akan menyikapinya seperti apa. Bagi saya, menghadiri resepsi tidaklah masalah asal kita menjamin dan sadar akan keselamatan diri.

Jika memang rasanya tidak mungkin untuk tidak datang tetap bisa diakali kok. Saya lebih memilih datang, duduk dipojokan yang sepi dan pulang. Tidak perlu berlama-lama yang penting sudah ‘setor muka’ ke yang punya hajat. Memang keadaan seperti ini rasanya menjadikan orang sedikit tidak ramah dan agak egois. Tetapi mau bagaimana lagi, jika setiap orang tidak peduli lalu kapan kita bisa bertegur sapa dengan senyum lebar seperti dulu lagi??

Sungguh setiap orang pasti merindukan bisa kumpul-kumpul sama teman, berjabat tangan di setiap acara pertemuan dan bebas naik kendaraan umum tanpa batasan. Ah rasanya masih akan sangat lama menunggu waktu itu kembali. 

Itulah mengapa sebaiknya pada masa sekarang ini akan lebih elok rasanya jika pesta pernikahan diadakan secara sederhana saja. Mengundang orang-orang terdekat dengan jumlah terbatas. Toh, itu tidak menghapuskan momen kesakrakalan dari sebuah pernikahan.

Sekalipun kamu mampu untuk menggelar resepsi yang sangat mewah dan bergengsi tetapi cobalah untuk peduli. Sudah saatnya mengesampingkan ego dan rasa gengsi yang tidak akan ada habisnya. Selain bisa meminimalisir risiko penularan, menyederhanakan acara resepsi akan menambah keintiman acara.

Percayalah, perubahan itu harus dilakukan dari diri sendiri, klise memang tetapi setidaknya kamu sudah melakukan sebuah kebaikan paling tidak untuk dirimu sendiri. 

0 komentar:

Posting Komentar

 
;