06/10/20 0 komentar

Serunya Popmama Parenting Academy 2020 Buat Para Millennial Parents Hits

Popmama Parenting Academy 2020

Acara yang menawarkan paket lengkap mulai dari ilmu, gabung komunitas hingga beragam hadiah menarik.

***

Halloo.. hallooo... apa kabar semua kalian di sana?? Semoga sehat selalu ya, sekalipun sedihnya pandemi ini masih belum berakhir, tetap semangat ya. Selalu jaga jarak, jaga kesehatan, jangan lupa sering cuci tangan dan jauhi kerumunan.

By the way, untuk para millenial parents udah pada tau belum kalau IDN Media bersama Popmama ngadain acara yang super seru?. Namanya Popmama Parenting Academy (POPAC) 2020 yang sudah diselenggarakan dari tanggal 28 September hingga 3 Oktober 2020.

Ini sudah tahun ketiga lho Popmama menyelenggarakan program parenting academy ini. Menariknya acara ini sudah diikuti oleh lebih dari 7000 mama papa atau juga para millenial parents. Acara yang diselenggarakan secara virtual ini bisa diikuti oleh setiap kalangan khususnya untuk para orang tua.

Ternyata di dalamnya ada banyak program menarik yang tidak hanya negbahas seputar dunia parenting tetapi juga beragam kegiatan menarik lainnya. Mau tau apa aja keseruan dan manfaat mengikuti POPAC ini??

Program ini GRATIS untuk mama papa dan seluruh keluarga

Acara ini diadakan secara virtual sehingga programnya bisa dinikmati bersama seluruh keluarga di rumah. Mama papa bisa mengikuti #POPAC2020 lewat Instagram TV, website POPAC dan Popmama, WhatsApp, YouTube Live dan juga Webinar via Zoom. Semuanya gratis tinggal ikut aja tanpa perlu ribet daftar lho!

instagram.com/popmama.parenting.academy

Bersama Popmama Parenting Academy, tahun ini para papa dan mama diajak menyiapkan keluarga yang mampu menghadapi tantangan percepatan era digital. Selain itu juga ada berbagai info menarik seputar kehamilan, melahirkan, gizi, kecerdasan hingga kesehatan mental anak. Pastinya akan sayang banget untuk dilewatkan ya moms!

Sesi Talkshow dan Workshop yang diisi oleh para experts di bidangnya

Ngobrol bersama para ahlinya pastinya akan membuat mama punya pengetahuan baru nih. Selain itu juga bisa berbagi pengalaman dan mendapatkan solusi dari permasalahan yang mungkin sedang dihadapi para orang tua. Caranya tinggal mengikuti kelasnya secara online di YouTube Popmama, popmama.com, dan juga popac.popmama.com.

Sederet para ahli yang menjadi pembicara ada yang berprofesi sebagai dokter, psikolog, konselor hingga yang ahli keuangan. Contohnya nih ada dr. Ameetha Drupadi, CIMI (konselor laktasi), Rista Zwestika Reni, S.Sos, AWP., CFP (perencana keuangan), dr. Yassin Bintang, SpOG (dokter spesialis kebidanan dan kandungan), dr. Margareta Komalasari, SpA (dokter spesialis anak).

instagram.com/popmama.parenting.academy

Selain itu ada juga Najelaa Shihab yang menjelaskan tentang adaptasi anak terhadap teknologi terlebih di masa pandemi ini dimana semuanya harus dilakukan secara online. Ada juga psikolog Fathya Artha Utami yang menjelaskan bagaimana menanamkan sikap pantang menyerah pada anak. Duh, pokoknya masih banyak lagi moms paps para experts yang kompeten.

Ada Online Competition yang berhadiah menarik

Mams, paps dan si kecil bisa terlibat juga untuk mengikuti My Family Photo Contest di #POPAC2020. Lomba ini berhadiah uang tunai senilai total Rp 2 juta dan ada Microwave Beko juga lho.

instagram.com/popmama.parenting.academy

Syaratnya juga gampang banget kok, tinggal unggah foto keluarga favorit 👪 dengan caption semenarik mungin tentang peran Popmama.com dalam kehidupan. Terakhir tinggal di tag ke @popmama_com dan @popmama.parenting.academy deh, jangan lupa hashtagnya #POPAC2020 dan #PopmamaGiveaway dalam postingannya ya.

Bisa punya kenalan baru dari komunitas online sesama Millenial parents

Mulai dari ngobrol tentang keluarga, bertukar cerita dan pengalaman, berdiskusi hingga berbagi hal seru lainnya secara virtual. Itu semua bisa mams dan paps dapatkan dari acara ini. Keseruan ngobrol bareng para orangtua dari berbagai latar belakang tentunya sangat menarik bukan?

instagram.com/popmama.parenting.academy

Jadi bisa saling tukar pikiran tuh kalau misalnya mams dan paps punya masalah seputar parenting. Barangkali di luar sana ada juga orang tua yang punya pengalaman dan masalah yang sama dan bisa berbagi masukan pastinya. Seru banget sih ini, jadi nggak pusing sendirian deh.. hehe

Ada deretan bintang tamu spesial dan juga bazaar

Pasti udah nggak asing dong dengan nama Tantri Syalindri, Fanny Fabriana, Chef Amy Zein dan juga Vicky Shu. Para ibu-ibu muda hits tersebut juga menjadi bintang tamu di acara #POPAC2020. Pastinya mereka juga berbagi pengalaman seputar parenting dan hal menarik lainnya.

instagram.com/popmama.parenting.academy

Selain itu acara ini semakin menarik lagi karena ada banyak exclusive deals bundling dari banyak tenants partner di tokopedia. Jadi nih ya ini momen yang pas banget buat para mams yang mau belanja-belanja kebutuhan si kecil atau pun keluarga. Dapat ilmu, dapat banyak kenalan dan pastinya dapat banyak diskon menarik. Siapa yang nggak seneng tuh mams?? 😁 

Tapi berhubung acaranya baru saja berakhir, mams tidak perlu berkecil hati. Tinggal buka saja akun @popmama_com dan @popmama.parenting.academy juga akun YouTube-nya, disana masih bisa dilihat kok beragam informasi menarik yang sayang untuk dilewatkan. Sampai jumpa di Popmama Parenting Academy (POPAC) 2021, jangan sampai kelewatan ya.

06/07/20 0 komentar

Yuk Kenali dan Lestarikan 6 Spesies Penyu Langka yang Ada di Indonesia

"Indonesia memiliki 6 dari 7 spesies penyu di dunia"

Source : pexels.com/Richard Segal

Tahukah kamu bahwa penyu adalah hewan yang dilindungi dan hanya terdapat 7 spesies penyu di dunia. Penyu merupakan hewan yang kini terancam kelangsungan hidupnya karena banyaknya praktik perburuan liar untuk mengambil cangkang, daging maupun telurnya. Banyak juga kematian akibat tersangkut jaring nelayan dan yang paling menyedihkan adalah penurunan kualitas habitat dari penyu. Banyak penyu mati karena memakan sampah plastik yang mengotori lautan ataupun menjerat penyu yang membuatnya sulit bernapas dan akhirnya mati.

Indonesia sendiri memiliki 6 dari 7 jenis penyu tersebut, dan seluruhnya dalam kategori terancam kepunahan jika tidak dilestarikan. Hanya jenis penyu Kemp’s ridley (Lepidochelys kempi) yang tidak ditemukan di Indonesia. Penurunan populasi dari penyu terus menjadi perhatian dunia, dan bisa menjadi indikasi dari ketidakseimbangan ekosistem kedepannya. Yuk kenali keanekaragaman hayati dari penyu yang ada di Indonesia dan bantu untuk melestarikannya.

1. Penyu Hijau (Chelonia mydas)

Jenis penyu ini cukup dikenal masyarakat dengan warna dibawah cangkangnya yang cenderung hijau. Spesies ini sudah masuk dalam kategori terancam menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature). Penangkaran penyu ini sudah dilakukan di Ujung Genteng, Sukabumi namun tetap saja populasinya tidak meningkat signifikan.

Banyak perburuan komersil dengan mengambil tempurung penyu (karapas) dan juga telur penyu di pantai. Penyu hijau menyukai tempat bertelur di sepanjang pantai dimana ada vegetasi tanaman Hibiscus tiliacus, Terminalia catappa dan juga Pandanus tectorius. Selain itu penyu hijau juga suka dengan jenis pasir yang terdapat banyak mineral kuarsanya.

2. Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata)

Penyu sisik sangat menyukai tempat bertelur yang terdiri dari butiran pasir koral. Pasir ini adalah hasil dari hempasan ombak/gelombang, dengan warna pasir yang putih atau kekuningan. Penyu jenis ini merupakan jenis pertama yang masuk dalam kategori terancam menurut IUCN bahkan sudah sejak tahun 1982. Penangkaran penyu sisik di Indonesia telah dilakukan di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Penyu ini memiliki keunikan dimana tempurungnya dapat berubah warna mengikuti temperatur air habitatnya. Selain itu karateristik dari karapasnya yang menyerupai gergaji menjadi ciri khasnya.

3. Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea)

Penyu ini dikenal juga dengan sebutan penyu abu-abu karena dominasi warna tukik dan karapasnya. Memiliki berat sekitar 35-45 kg saat dewasa dengan panjang karapas sekitar 60-70 cm. Sebagian besar spesies ini merupakan pemakan lamun, namun ditemukan juga sebagian yang memakan cumi-cumi, udang dan kepiting kecil. Penyu pipih menyukai tempat bertelur di butiran pasir hitam yang memiliki kandungan mineral lebih dari 70%. Diantara semua jenis penyu yang ada saat ini, penyu lekang merupakan jenis penyu yang memiliki ukuran terkecil.

4. Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea)

Dalam bahasa Inggris penyu belimbing disebut juga Leatherback sea turtle. Selain dikenal dengan sebutan penyu belimbing di Indonesia penyu ini juga disebut penyu raksasa karena ukurannya yang besar. Keunikan penyu ini terletak pada corak tubuhnya yang bergaris-garis seperti buah belimbing. Penyu ini menyukai tempat bertelur yang mirip seperti penyu hijau. Saat penyu bertelur, ia akan membuat sarang asli dan sarang palsu untuk melindungi telur-telurnya.

5. Penyu Pipih (Natator depressus)

Penyu jenis ini dalam bahasa Inggris disebut dengan flatback turtle. Memiliki tubuh yang cenderung rata namun di bagian pinggirnya sedikit melengkung ke luar. Penyu pipih menyukai tempat bertelur yang terdiri dari pasir putih. Tempatnya tidak terdapat vegetasi pantai dan hanya ada rumput-rumputan dan tanaman perdu. Jenis penyu ini tergolong omnivora karena bisa memakan lamun maupun crustacea.

6. Penyu Tempayan (Caretta caretta)

Jenis penyu terakhir yang ada di Indonesia adalah penyu tempayan (Loggerhead). Penyu ini menyukai tempat bertelur di pasir silika yang berdiameter relatif sedang. Bahkan di Australia penyu jenis ini mampu bertelur di pantai peneluran yang terdiri dari koral. Termasuk kedalam golongan karnivora, penyu ini memiliki warna cenderung coklat muda kekuningan. Penyebarannya juga sangat luas meliputi Samudera Hindia hingga Samudera Atlantik. 

Nah, apakah kamu pernah melihat salah satunya? Mulailah untuk sayangi dan lestarikan sesama makhluk hidup demi kebaikan kita bersama.
0 komentar

Kenapa Saat Butuh Bantuan Psikolog Orang pada Nyinyir “Lu Kurang Ibadah Sih!”

Stigma yang terbangun di masyarakat, perkara mau konsultasi ke psikolog kalau gak dibilang gila ya dibilang kurang ibadah. Sepertinya ada yang salah!

Source : https://unsplash.com/Sydney Sims


Berangkat dari banyak keresahan orang-orang dewasa ini yang katanya makin stres ngadepin hidup. Bingung kenapa rasanya masalah hidup bukannya berkurang malah kian hari kian bertambah. Stres, mudah marah, murung, nggak nafsu makan sampai berujung pada depresi.

Entah itu karena habis di PHK, ada masalah keluarga, masalah sama tetangga sampai berniat segera menghadap Yang Kuasa.  Lalu kemudian muncul ide bagaimana kalau mencari ‘bantuan’ agar bisa bebas dari beban mental tersebut. Jalan keluar yang diambil adalah pergi ke seorang psikolog. Atau kalau lebih parah lagi bisa dirujuk ke psikiater.

Eiits, tetapi tunggu dulu,, apa kata orang kalau ketahuan pergi ke psikolog atau psikiater?? Bisa dianggap gila ntar, atau bahasa halusnya dibilang “kurang mendekatkan diri pada Tuhan”. Berasa itu orang tau semua kegiatan ibadah yang pernah dilakukan diri ini. Lebih parah lagi dibilang kalau kurang iman karena hidupnya gak tenang.

Please lah, kenapa juga orang mau ke psikolog pake segala dikaitkan dengan kurangnya iman. Apa sih sebenarnya definisi dari iman yang kuat itu? Bukannya orang beriman juga punya perasaan sama seperti semua manusia? Bukankah keimanan juga bisa naik dan turun, lalu kenapa juga orang yang ke psikolog harus dikatain seperti tidak punya Tuhan?

Heelloo.. psikolog atau psikiater itu adalah praktisi kesehatan juga. Sama aja kayak dokter yang kerjanya nyembuhin pasien yang sakit. Psikolog hadir untuk membantu memecahkan segala keluh kesah terhadap urusan mentalmu yang sedang berantakan.

Kata orang, yang mengerti terhadap masalah diri sendiri adalah ya kita sendiri. Jadi yang mampu menyembuhkan segala problematika diri adalah kembali lagi ke diri kita. Iyaa kalau problemnya cuma sebatas ‘duh ngantuk nih, harus gimana cara ngilanginnya ya?’, ‘oh iya coba tidur ahh..’ dan masalah pun terselesaikan dengan mudah.

Kalau bisa dengan begitu mudah menyelesaikan masalah mental tentu angka bunuh diri tidak akan meningkat setiap tahunnya. Lihat tuh negara-negara tetangga, ada Jepang dan Korea Selatan yang punya angka bunuh diri fantastis.

Sampai-sampai kalau kamu jalan di sepanjang Sungai Han ada semacam telepon umum yang bisa kamu gunakan untuk bercerita ke seseorang saat punya masalah. Sehingga kamu bisa mengurungkan niat untuk terjun dari atas Sungai Han.

Begitu konsennya negara Korea Selatan terhadap peningkatan angka bunuh diri tersebut. Sehingga seharusnya hal ini juga dapat dijadikan contoh di negeri tercinta ini. Negeri yang katanya masyarakatnya paling ramah, paling suka membantu, paling suka ikut campur urusan orang lain juga tentunya.

Tetapi cuma buat meramaikan saja dan jadi bahan gosip saat nongkrong di tukang sayur. Yaah begitulah potret negeri yang masyarakatnya super ini. Lalu pertanyaan yang muncul kemudian siapa yang harus disalahkan??

Ya tentu bukan salah siapa-siapa sih, karena ini kan sudah jadi budaya. Budaya yang diwariskan secara turun-temurun dari dahulu kala. Budaya yang mudah menjudge dan mikir yang nggak-nggak tanpa tahu keseluruhan cerita dan situasinya.

Kemudian balik lagi, bagaimana nasib orang-orang yang membutuhkan ‘bantuan’ tadi? Ya terpakasa harus diam-diam saja memendam masalahnya sendiri, sampai ada Jin Aladin yang datang dan bilang “sebutkan tiga permintaanmu, maka akan ku kabulkan..haha”.

Mengubah pola pikir itu sulit teman, beginilah risiko kalau hidup di tengah masyarakat yang masih menganggap kesehatan mental itu tabu. Padahal kesehatan mental itu penting banget loh, kalau dibandingin dengan Australia saja, setiap minggunya ada ratusan orang yang datang ke psikolog. Salah satunya karena beban kerja mereka yang sangat tinggi, katanya kerja disana seperti mesin, tidak ada senyam-senyum ramah seperti disini.

Lagipula pergi konsultasi dengan para ahli itu sudah biasa bagi mereka. Terkadang ada yang konsultasi bagaimana cara mengatur amarah (anger management), masalah tidur (sleeping disorder), bahkan sesederhana masalah gangguan makan (eating disorder). Kesehatan mental itu sekali lagi bukan masalah gangguan jiwa semata, ada buanyaaak banget yang bisa dikaitkan dengan kesehatan mental.

Dan yang pasti di negara sana tidak pernah ada yang bilang kalau pergi ke psikolog itu karena mereka kurang ibadah. Padahal sebagian dari mereka itu agnostik alias tak beragama tetapi meyakini adanya Tuhan.

Memang benar semakin kita mendekatkan diri kepada Tuhan YME maka kita akan semakin merasakan ketenangan. Tetapi sudut pandang kali ini berbeda, karena diri sendiri merasa ada yang tidak beres dari jiwanya. Dan pastinya diri sendiri sudah tidak mampu untuk mengobati sendiri terhadap masalah yang timbul tersebut.

Sehingga berkonsultasi dengan ahlinya adalah sebagai salah satu jalan keluar. Bukankan itu juga jadi bagian dari ikhtiar atau pun usaha untuk sembuh? Lalu mengapa masih harus dikatakan tabu oleh sebagian besar pandangan orang?

Sudah saatnya kita lebih memberi prioritas terhadap kesehatan mental. Coba lihat lingkungan sekitar, bantulah saat orang terdekat sedang butuh dukungan moril. Bukankah Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum jika mereka tidak mengubah nasib mereka sendiri?

 
;